Skip to main content

Di Balik Pandemi Corona, Nasib Miris Ratusan Bayi Terlantar

Di Balik Pandemi Corona, Nasib Miris Ratusan Bayi Terlantar Tanpa Orangtua Terkuak, Ada Bisnis Gelap Ini Ternyata...

Pandemi virus corona yang sedang terjadi justru nenguak nasib miris ratusan bayi yang terlantar tanpa orangtua, disebut karena ada bisnis gelap ini.

Kebijakan lockdown maupun social distancing yang gencar dilakukan oleh banyak negara.

Hal ini tentu dilakukan demi mencegah penyebaran wabah, dan situasi ini pun berdampak juga pada berbagai lini kehidupan manusia.

Termasuk membuat ratusan bayi ini terlantar tanpa orangtua di Ukraina.

Melansir Sky News dari Intisari pada (15/5/2020), bayi-bayi terlantar ini disebut sebagai bayi yang dilahirkan dalam sebuah bisnis.

Bisnis tersebut adalah bisnis gelap sebagai ibu pengganti atau sewa rahim.


Sementara lockdown diterapkan di berbagai tempat, membuat orangtua bayi-bayi itu tidak bisa menjangkau mereka karena pencegahan infeksi virus.

Hal ini pun membuat praktik bisnis sewa rahim kembali terbongkar dan menuai perdebatan.

Diberitakan bahwa ada lusinan bayi dalam bisnis tersebut yang 'terlantar' tak bisa bersama orangtua.

Menurut Sky News, ada sekitar 51 bayi yang terbaring di deretan dipan di sebuah hotel kecil di pinggiran Kiev.

Sementara itu, CNN memberitakan bahwa jumlah bayi malang dalam perawatan di Kiev adalah 46 bayi berdasarkan sebuah video yang diposting online oleh BioTexCom, sebuah klinik reproduksi.

Secara total sekitar seratus bayi terdampar di klinik reproduksi di seluruh Ukraina, menurut Lyudmila Denisova, ombudsman hak asasi manusia parlemen Ukraina.

Bayi-bayi itu dikatakan dikumpulkan oleh orangtua dari Amerika Serikat, Inggris, Eropa, dan tempat lainnya.

Disebutkan jika mereka kemungkinan akan menunggu lama lantaran pemerintah Ukraina mengatakan hanya bisa mengizinkan orangtua masuk ke negara tersebut jika permintaan telah diterima dari kedaulatan terkait.


Ukraina memberlakukan pembatasan untuk orang asing sejak Maret lalu.

Sehingga sejak saat itu orangtua bayi-bayi tersebut harus puas hanya dengan melihat bayi mereka melalui foto dan panggilan video.

Ada pula orangtua yang tidak dapat meninggalkan Ukraina usai 'mengumpulkan' bayi mereka, karena penerbangan telah ditangguhkan.

Seperti yang dialami oleh orangtua asal Spanyol, Rafa Aires.

Selain itu, istrinya tidak dapat pergi bersamanya lantaran pekerjaan.

"Setiap hari saya melakukan panggilan video dengan istri saya selama satu jam atau satu setengah jam baginya untuk melihat bayi itu. Ini sangat sulit," ungkapnya.

Namun menurutnya perawat dan tenaga medis hotel luar biasa dalam membantunya sehingga lebih memudahkannya.

Praktik orangtua pengganti memang tidak dilarang di Ukraina.


Ibu pengganti dapat menerima hingga £ 14.000 atau sekitar Rp 250.000.000.

Klinik di negara tersebut menawarkan harga yang kompetitif dibanding negara lain.

Mengutip CNN, terjadi lonjakan permintaan di Ukraina pada 2015 setelah beberapa negara di Asia melarang praktik ini.

Peristiwa terdamparnya bayi-bayi dalam bisnis tersebut tanpa orangtua pun kembali membangkitkan perdebatan tentang etika surrogacy komersial atau bisnis sewa rahim.

Denisova sendiri telah menjadi salah satu kritikus industri sewa rahim ini.

Ia mengatakan dalam sebuah posting Facebook bahwa video BioTexCom menunjukkan industri surrogacy Ukraina mengiklankan bayi sebagai 'produk berkualitas tinggi' kepada calon orang tua.

"Anak-anak di Ukraina tidak boleh menjadi korban perdagangan manusia," tulis Denisova, seraya menambahkan bahwa dia mengusulkan untuk mengubah undang-undang agar hanya orang Ukraina yang menggunakan layanan tersebut.

Namun, sementara ini Denisova dari ombudsman hak asasi manusia parlemen Ukraina, mengatakan bahwa dia bekerja dengan Kementerian Luar Negeri negara itu untuk membantu orangtua bayi-bayi itu mendapatkan izin untuk memasuki Ukraina, yang perbatasannya ditutup karena pandemi coronavirus.

Menurut Dennisova, jika kini totalnya sekitar ada seratus bayi terlantar.

Maka jika perbatasan Ukraina tetap ditutup, memungkinkan sekitar 1.000 bayi akan terdampar, katanya mengutip perkiraan BioTexCom.

Di sisi lain, klinik BioTexCom, yang telah berusaha untuk mendapatkan pemerintah Ukraina untuk mengambil tindakan tetapi tindakan yang disarankan bukan yang mereka inginkan.

Pendiri BioTexCom Albert Tochilovsky mengatakan bahwa mereka siap untuk reaksi negatif yang muncul.

Sementara itu, melalui pengacaranya, Denis Herman, BioTecCom pun menjelaskan bagaimana mereka merawat bayi-bayi yang terdampar.

"Anak-anak semua diberikan makanan, cukup banyak karyawan menjaga mereka, tetapi tidak ada pengganti untuk perawatan orang tua.

"Kami mencoba mengirim foto anak-anak kepada orang tua, kami mencoba membuat panggilan konferensi, tetapi ini tidak dapat menggantikan komunikasi dalam kontak langsung," bebernya.

Sumber : style.tribunnews
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar