Skip to main content

Meninggal Dunia dalam Kondisi Hamil 4 Bulan, Ari Puspita Sari Justru Tak Pernah Merawat Pasien Corona

Meninggal Dunia dalam Kondisi Hamil 4 Bulan, Ari Puspita Sari Justru Tak Pernah Merawat Pasien Corona, Pihak Rumah Sakit Selidiki Awal Mula Sang Perawat Tertular Virus

Kabar duka mengenai tenaga medis yang meninggal dunia akibat virus corona masih menyelimuti Tanah Air

Salah satu perawat dari Surabaya meninggal dunia setelah dinyatakan positif Covid-19.

Ari Puspita Sari, sempat viral di berbagai media karena video isak tangis teman-temannya.

Bagaimana tidak, Ari yang tengah hamil 4 bulan saat itu terpaksa diperlakukan laiknya pasien virus corona dengan protokol kesehatan.

Perawat tersebut berbaring di ranjang rumah sakit dan didorong oleh para petugas medis yang mengenakan alat pelindung diri (APD).

Dalam video tersebut, terdengar suara tangis para rekan-rekan sang perawat dari sebrang lorong.

"Ari... Ariiii... Ariiii...," teriak tenaga medis lain, bahkan ada salah satu perawat yang pingsan saat melihat perawat yang bernama Ari didorong oleh petugas ber-APD.

Tak lama setelah viralnya video tersebut, beredar kabar bila sang perawat yang tengah hamil 4 bulan dinyatakan meninggal dunia.

Kabar ini kembali viral di media sosial dan diunggah oleh berbagai pengguna media sosial.

Tak ayal, berita meninggalnya perawat yang bernama Ari Puspita Sari ini disoroti oleh berbagai kalangan, mulai dari selebritis, hingga Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.


Seperti yang diberitakan oleh Kompas.com sebelumnya, informasi meninggalnya Ari dikonfirmasi oleh Persatuan Perawan Nasional Indonesia (PPNI).

Ketua Umum PPNI Harif Fadhilla, membenarkan berita duka tersebut.

"Sudah ada info (yang diterima PPNI), tapi statusnya belum tahu, karena belum tahu hasil lab-nya," kata Harif.

Meski demikian, pihaknya mengaku belum mengetahui hasil tes, saat Ari diinformasikan meninggal dunia.

Terakhir kali, status perawat yang diketahui bernama lengkap Ari Puspita Sari tersebut merupakan Pasien Dalam Pemantauan (PDP).

Meski belum diketahui apakah positif Covid-19 atau tidak, sebagaimana terlihat di video Harif menyebut tindakan yang diberikan kepada perawat tersebut sudah berdasarkan standar penanganan PDP.

"Tapi dirawat dengan PDP," ujar Harif melanjutkan pernyataan sebelumnya.

Setelah Ari tiada, barulah hasil tes swab keluar.

Ari rupanya meninggal dunia pada 10.15 WIB di Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Dr Ramelan.

Sebelum dirawat di RSAL Dr Ramelan, Ari sempat menjalani perawatan di RS Royal.

Dilansir dari Surya.co.id, humas RSAL Dr Ramelan, drg Aldiah membenarkan jika dari hasil tes swab PCR yang dilakukan RS Royal menunjukkan bahwa Ari positif Covid-19.

"Pas tanggal 15 masuk RSAL. Hasil swab diambil di RS Royal kan jadi sudah bisa diketahui hasilnya psoitif," ucap dia.

Namun Aldiah mengaku tidak mengetahui pasti kapan hasil tersebut keluar. Aldiah memdiprediksi, tes Swab PCR biasanya 4-5 hari setelah pengecekan.

"Aku nggak tahu kapan keluarnya (hasil swab) tapi dirawat di RS Royal sejak 8 Mei. Kalau Swab itu kan pemeriksaan keluar 4-6 hari berarti kan bisa jadi sebelum masuk RSAL sudah keluar hasil positif itu," terang dia.

Aldia bercerita, saat dibawa ke RSAL, kondisi Ari sudah dalam keadaan kritis dan telah menggunakan inkubasi.

"Sudah pakai inkubasi saat datang. Masuk RSAL sudah masuk ruangan khusus ICU Covid-19. Jadi di RSAL itu nggak masuk ruang biasa tapi sudah masuk ruang ICU Covid," ungkap dia.

Entah dari mana Ari tertular, namun pihak Rumah Sakit Royal Surabaya, tempat Ari bekerja mengungkapkan bila tenaga medis dalam kondisi hamil memang tidak ditugaskan untuk merawat pasien Covid-19.

Hal tersebut diyngkapkan Juru Bicara RS Royal Surabaya, dr Dewa Nyoman Sutanaya.

"Beliau bertugas di tempat layanan pasien biasa, bukan pasien Covid-19," ungkapnya, Senin (18/5).

"Kalau tim corona enggak boleh hamil,” tambahnya melansir dari Kompas.com.

Namun sesuai protokol kesehatan, semua perawat dan dokter yang pernah memiliki riwayat kontak dengan Ari Puspita Sari dilakukan tracing (penelusuran) dan isolasi.

"Terpapar macam-macem dari rumah bisa dari resiko pekerjaan bisa untuk tracing-nya biar temen-temen Dinkes yang mentracing karena kan punya porsi masing-masing," ujar Dewa.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar