Skip to main content

Ditegur karena Tak Pakai Masker, Remaja di Sorong Ketapel Aparat Keamanan

Sekelompok masyarakat yang tinggal di Jalan Perikanan Kompleks Jembatan Puri, Kelurahan Klaligi, Distrik Manoi, Kota Sorong, Papua Barat, sempat mengamuk sampai membongkar pos penjagaan yang dibuat oleh petugas Gugus Tugas, Jumat pagi (5/6).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Balleo News, kejadian keributan di Jembatan Puri terjadi sekitar pukul 07.00 WIT. Dimana berawal dari seorang remaja yang ditegur oleh aparat keamanan untuk memakai masker, karena sesuai protokol kesehatan bahwa selama masa pandemi, semua orang yang keluar rumah wajib menggunakan masker.


Tidak diterima ditegur, remaja tersebut kemudian pulang ke rumahnya. Bukannya mengambil masker, ternyata remaja tersebut pulang ke rumah untuk mengambil ketapel. Remaja yang masih dalam keadaan marah ini, langsung mengketapel aparat keamanan yang sedang berjaga-jaga di Jembatan Puri.


Anggota Polres Sorong Kota kemudian mengamankan remaja tersebut, karena yang bersangkutan sempat mengamuk. Pantauan media ini, keluarga remaja tersebut tampak marah karena tidak terima anaknya diamankan ke Kantor Polisi. 

Kapolres Sorong Kota AKBP Ary Nyoto Setiawan membenarkan sempat terjadi keributan di Kompleks Jembatan Puri, Jumat pagi (5/6). 

"Kejadian ini terjadi karena ada miss komunikasi atau kesalahpahaman saja. Jadi awalnya personel TNI, Polri dan Satgas sedang melaksanakan pendisiplinan masyarakat di Jembatan Puri. Di mana anggota mengimbau kepada semua orang yang ada di Jembatan Puri, untuk menggunakan masker. Tapi ada seorang remaja justru menyerang anggota dengan ketapel, kemudian remaja tersebut diamankan oleh anggota dan dibawa ke Polres," ungkapnya saat dikonfirmasi Balleo News. 

Menurut Kapolres, sesuai informasi dari keluarganya bahwa remaja tersebut ada keterbelakangan mental. Lanjutnya, saat diamankan ke Polres Sorong Kota, remaja tersebut kemudian melarikan diri pulang kembali ke Jembatan Puri dan memprovokasi yang lainnya.  

"Tapi sudah kami redam dan berikan pengertian kepada keluarga dan masyarakat. Memang kita tahu sendiri, masyarakat disini perlu diberikan pemahaman yang baik. Kita ada dan bekerja disini untuk masyarakat, kita sudah berikan pemahaman dan masalah sudah selesai. Keluarganya juga mengakui, kalau anaknya ada keterbelakangan mental. Kalau ada anggota salah juga pasti saya tindak, tapi ternyata anggota tidak salah," pungkasnya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar