Skip to main content

Rumah Berdinding Kardus dan Lantai Tanah, Pasutri di NTT Ini Tetap Bersyukur

Kemiskinan merupakan potret kehidupan yang sangat sulit dihapus di negeri ini. Pemimpin boleh saja berganti, tetapi kemiskinan seakan tak mampu lenyap dari bumi pertiwi. 

Kisah piluh akibat kemiskinan kembali datang dari pasangan suami istri Ambrosius Ambon dan Evi Andrian di Kampung Daranatar, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka.  

Pasutri ini sudah bertahun-tahun hidup dengan kondisi susah di sebuah gubuk reyot yang hanya beralaskan tanah. Dengan sang suami yang menderita sakit stroke membuat kondisi kehidupan pasutri ini makin memprihatinkan.  

Gubuk reyot yang ditempati oleh Bapa Ambros dan Mama Evi, demikian keduanya disapa, hanya berdinding tripleks dan dos bekas yang dipasang tidak beraturan.  

Triplek itu pun diperoleh dari sisa-sisa proyek pembangunan PLTMG Wairita yang hanya berjarak sepelemparan batu dari gubuk reyot Bapa Ambros dan Mama Evi. 


Gubuk reyot berukuran 3x6 meter ini beratapkan daun kelapa yang sudah mulai lapuk. Agar tidak terkena hujan, atap juga dilapisi dengan terpal berwarna abu-abu yang juga diperoleh dari sisa proyek pembangunan PLTMG Wairita. 

Pada gubuk reyot ini, tidak banyak perabot rumah tangga yang ditemukan. Di dapur hanya ada gelas, piring dan beberapa kaleng tempat menaruh kopi, gula, serta bumbu dapur. 

Sedangkan di kamar yang hanya dipisahkan dengan kain pembatas dengan dapur, hanya ada sebuah lemari dengan satu tempat tidur. Beruntung masih ada penerangan lampu listrik yang ditarik dengan kabel dari tetangga sekitar. 

Untuk ruang tamu langsung di depan rumah karena bagian dalam rumah hanya bisa dipergunakan untuk dapur dan satu kamar tidur. Pada ruang tamu yang langsung berhadapan dengan halaman, ada bangku panjang dan meja dari kayu yang dibuat oleh Bapa Ambon. 

Gubuk reyot ini tampak gelap dan pengap karena atap rumahnya tidak begitu tinggi. Jika ada tamu yang berkunjung, maka hanya bisa duduk di depan teras rumah. Di dalam rumah tidak ada ruang tamu. Hanya ada satu kamar dan dapur yang hanya dibatasi oleh kain panjang. 


Untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga pasutri yang tidak dikaruniai anak ini, sang istri Mama Evi bekerja sebagai pemecah batu kerikil di Pantai Hoder. Sudah kurang lebih 4 bulan terakhir, tumpukan batu kerikil tidak dibeli mobil proyek karena dampak corona. 

Sedangkan sang suami yang sakit stroke ringan, kedua kakinya mengalami kelumpuhan, hanya bisa membantu dengan bekerja memotong kayu api, memasak dan memelihara ayam kampung pemberian dari tetangga. 

"Saya tidak bisa kerja jauh dari rumah. Sudah 3 tahun, kaki ini tidak bisa jalan. Saya pikir hanya rematik biasa, lama-lama kaki saya lumpuh," ungkap Bapa Ambros. 

Dengan minimnya dana dan juga tidak memiliki Kartu KIS, praktis dirinya hanya bisa dibawa berobat ke dokter oleh sang istri ketika tumpukan batu kerikil dibeli. 

Butuh waktu berminggu-minggu bagi sang istri untuk bekerja memecah batu yang dipilih di pesisir Pantai Hoder untuk dikumpulkan dan bisa dijual.  

Bapa Ambros mengaku pindah ke Desa Hoder pada bulan Oktober tahun 2017. Sebelumnya dirinya tinggal menumpang dengan keluarga dan bekerja sebagai petani sayur di Wolonbetan. Dan pada Oktober 2017, mengurus surat pindah penduduk dan tinggal di Kampung Daranatar, Desa Hoder. 

Lanjutnya, ia dan sang istri tinggal di atas lahan pemberian salah seorang keluarga. Dengan penghasilan yang terbatas dan sakit stroke ringan yang ia derita, membuat keduanya tidak bisa membangun rumah yang layak huni sehingga sudah merasa nyaman tinggal di tengah keterbatasan di rumah yang sekarang.  

Kepada florespedia, Bapa Ambros menuturkan, ia dan sang istri di tahun 2020 ini baru tercatat sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT), yang mana nama sebagai penerima bantuan ia ketahui karena ditempel di salah satu rumah warga di Kampung Daranatar.  

Sedangkan untuk bantuan pemerintah lainnya, dia mengaku belum pernah mendapatkan. Ia dan istrinya juga tidak memiliki kartu kesehatan KIS. 


Mama Evi menuturkan, suaminya Bapa Ambros mengisi aktivitas di rumah dengan memelihara ayam kampung pemberian dari salah satu keluarga. 

"Ayam ini setiap dua bulan bertelur sehingga kami bisa jual. Kurang lebih kami sudah dapatkan Rp.1 juta dari jual ayam kampung," ungkapnya. 

Selain memelihara ayam, Bapa Ambros yang hanya bisa di rumah saja, bekerja memotong kayu api dan memasak. Walaupun hanya dengan menggeser-geser kaki, dirinya bisa melakukan aktivitas memasak dan pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya. Sehingga bisa meringankan beban kerja istrinya.  

Sedangkan sang istri, Mama Evi setiap pagi pergi ke Pantai Hoder untuk mencari batu-batu yang terhempas ombak untuk dipecahkan menjadi batu kerikil dan dikumpulkan. Kalau sudah terkumpul banyak maka batu itu baru dijual.  

Meskipun sudah 3 tahun tinggal di gubuk reyot ini, Bapa Ambros dan Mama Evi merasa bersyukur. Setidaknya, mereka berdua bisa terhindar dari panas matahari, angin dan hujan. 


Di tengah keterbasan yang ada, Bapa Ambros dan Mama Evi mengaku tidak mengharapkan bantuan dari pemerintah karena menurutnya mungkin masih banyak warga yang lebih susah dari keduanya yang lebih layak dibantu oleh pemerintah. 

Dengan sang istri yang masih bisa bekerja memecah batu menjadi batu kerikil di Pantai Hoder dan dirinya yang bekerja dari rumah, keduanya mengaku bahagia dan bersyukur menjalani hidup. 
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar